Wednesday, 10 August 2011

Medan Juga Punya Film






Pembuatan Film mengisahkan kehidupan budaya dan masyarakat lokal , belakangan ini semakin menggeliat di kota Medan. Sejumlah film baru dalam waktu dekat ini bakal bermunculan, mewarnai dunia perfilman . Keberadaannya mulai mendapat sambutan positif dari masyarakat kota Medan khususnya dan masyarakat Sumatera Utara (Sumut) pada umumnya, ditengah kondisi perfilman kita yang sangat dirasakan minim mengangkat budaya lokal dan fakta kondisi pergeseran kehidupan budaya masyarakat saat ini.

"Sumatera Utara ini sangat kaya akan budaya. Sangat potensial untuk diangkat dalam bentuk film," kata H Amsyal salah satu penggiat perfilman di kota Medan dalam sebuah perbincangan, tiga pekan lalu.

Sebuah film menceritakan keberadaan perkampungan masyarakat asal Bali, yang sudah cukup lama berada di Kabupaten Langkat akan digarapnya dalam waktu dekat ini. Hunting lokasi pun sudah dilaksanakan awal Juli lalu. “Film ini sepenuhnya di kerjakan oleh Widy Production,” kata Amsya.


Baru-baru ini sebuah film berbahasa Batak berjudul Anak Sasada, diluncurkan Costellazione Produksi digarap oleh Sutradara Pontyanus Gea dengan Produser Emilia Sarumaha dan Penulis Skenario Thompson HS. Film ini melukiskan realitas kondisi sosial dan ekonomi di sebuah pedesaan di Tapanuli.

Kisah ini mengejutkan sebahagian besar masyarakat etnis Tapanuli karena merasa bangga akan hadirnya film berbahasa Batak. Keseluruhan produksi Anak Sasada yang skenarionya ditulis budayawan Thompson HS ini memakan waktu 40 hari dengan mengambil lokasi syuting di Medan, Pantai Cermin, Bakkara, dan Balige. Pada 27 Juni lalu film ini diluncurkan dalam bentuk VCD sebanyak 50.000 set.

Film ini menceritakan kisah seorang anak bernama Sabungan. Status sebagai anak lelaki satu-satunya yang memiliki karakter manja, mebuat Ia kerap sesuka hati kepada orang tuanya tanpa memperdulikan kondisi kesulitan ekonomi orang tuanya. Ayahnya yang sudah lama terbaring sakit, memaksa ibunya bekerja keras dibantu seorang adiknya perempuan diladang.

Sementara Sabungan setiap hari pekerjaanya hanya berjudi dan minum minuman keras di lapo (kedai) Tuak. hingga suatu ketika dia memaksa hendak menjual ulos untuk membayar hutang-hutangnya. Namun, sang Ibu menolak keinginannya itu. Hingga akhirnya terjadi tarik menarik yang membuatIbunya menangis hingga memancing kedatangan seorang tetangganya yang prihatin melihat prilaku sabungan kepada Ibunya.


Pontyanus Gea sebagai sutradara cakap mengarahkan aktor dan aktris. Meski berbekal ilmu sinemotografi dari Italia, ini bukan pekerjaan mudah baginya. Sebab tak semua pemain berdarah Batak Toba. Sebagian pemain berdarah Batak Toba pun, dalam pengamatan saya di lokasi syuting, terlihat kesulitan mengucapkan dialog. Kesulitan bahasa ini dipecahkan dengan menggandeng seorang Batakolog, Manguji Nababan, sebagai penyelaras bahasa.

Film Titipan Mata


Film tentang pekerja media terbilang tak sedikit. Baik genre drama maupun action menempatkan para pekerja di posisi terhormat. Mereka – jurnalis, fotografer, editor – hadir sebagai jagoan. Dengan segala strategi mereka mengungkap fakta dan tampil sempurna sebagai musuh yang dibenci para pelaku kriminal.

Pekerja media memang profesi sexy bagi kreator film dan seniman. Pengarang komik superhero juga memilih profesi ini sebagai penyamaran sang pahlawan. Tengoklah Clark Kent si alterego Superman atau Peter Parker yang berubah menjadi Spiderman. Saat di angkat ke layar lebar keaslian profesi ini tetap dipertahankan.

Sineas film independen Medan pun tertarik mengangkat kisah pekerja media ke dalam ruang kreatifitas. Salah satunya adalah Andi Hutagalung. Melalui Titipan Mata ia menegaskan peran penting pekerja media. Terutama dalam menempatkan masyarakat pada posisi sebagai pemilik keputusan tertinggi di lingkungan tempat mereka tinggal.

Film produksi Umatic Studio ini mengisahkan idealisme seorang fotografer bernama Lamhot. Ia menyuarakan kondisi sosial di depan mata melalui kamera. Sayang, pilihan idealisme ini tak sejalan dengan Samsir, pemimpin redaksi majalah tempatnya bekerja, yang oportunis.

Jepretan Lamhot yang mengabadikan eksploitasi anak jalanan ditolak Samsir. Sikap Samsir dilawan Lamhot dengan keluar dari perusahaan. Ia memilih menjadi fotografer lepas.Pasca hengkang dari majalah, Lamhot menuju Bukitlawang. Perjalanan ini semula untuk berburu foto melengkapi koleksi yang akan ia pamerkan. Namun, sesampai di Bukitlawang ia menjumpai kondisi tragis. Masyarakat di daerah tersebut menjual hutan mereka kepada pengusaha yang berencana mengalihfungsikan hutan.

Lamhot memprovokasi masyarakat menolak keinginan sang pengusaha. Ia menuliskan berita tentang kondisi tersebut dan meminta Hotner, jurnalis rekannya, menyiarkan di media. Perlawanan antek-antek pengusaha mesti dihadapi Lamhot. Beruntung, ia didukung Alam, Bangun, dan beberapa warga Bukitlawang melewati ancaman dengan mulus. Misi di Bukitlawang sukses diikuti kesuksesan pameran fotonya. Produksi : Umatic Studio / Sutradara : Andi Hutagalung / Produser : Eric Murdianto / Penulis Skenario : Wendy Darmawan dan Rizkan Jania MN / Durasi : 30 menit.
Post a Comment