Wednesday, 3 August 2011

Bowling Tak Hanya Lanjut Usia


Siang itu, jarum jam saya masih menunjukan pukul 14.20 Wib. Namun, susana di Perisai Super Bowl terletak di lantai 8, Perisai Plaza, Jalan Pemuda, Jumat awal Mei lalu, sudah berangsur-angsur ramai dikunjungi para pencita olahraga bowling dari berbagai usia.

Diujung sebelah kanan landasan bowling, Indry (16) terlihat begitu memegang erat bola bowling yang diletakannya dibawah dagunya. Tatapan matanya begitu tajam mengarah pada deretan PIN putih dihadapannya.

Dengan mengatur teknik sedemikian rupa dan menghembuskan nafas, Indry pun kemudian mengayunkan tangannya dan menggelindingkan bola. Hasilnya, dia pun berhasil menjatuhkan seluruh PIN. “Saya harus latihan setiap hari, untuk mengikuti pertandingan antar pelajar se-Asia di Bangkok. Kemudian menghadapi PON,” katanya kepada Medan Look.

Diusianya masih belia, siswi kelas II SMA Negeri 1 Medan bernama lengkap Aldila Indryati ini, sudah mengenal bowling sejak kelas 6 SD. Sampai saat ini, bowling sudah menjadi olahraga favoritnya. Kepiawainya menggelindingkan bola bowling dan menjatuhkan PIN, membuat dirinya menjadi salah satu atlet junior andalan Sumut.

Selain Indri, ada dua rekannya yakni Imam Wiguna dan Kartika Wahyu Putri yang akan diutus mewakili Sumut di Bangkok dan PON 2012 nanti. Sebelum mereka, sudah banyak anak muda namanya merangkak naik dari cabang olahraga ini karena mendapatkan prestasi. Itu lantaran Persatuan Bowling Indonesia (PBI) Sumatera Utara (Sumut) sedang melirik kaula muda sebagai potensi untuk dijadikan atlet berbakat.

Cara ini dianggap bisa merubah image bowling bukan lagi hanya olahraga bagi kalangan usia dewasa ke atas saja. Sebab itu, PBI Sumut lebih memilih fokus kepada usia muda “Kita ingin adanya generasi penerus,” kata Ketua PBI Sumut Singgih Gunawan.

Dari usaha untuk mengubah image bowling cabang olahraga disemua usia itu, Singgih mengaku melihat adanya kemajuan.
“Saat ini sudah terlihat adanya pergeseran. Anggapan bowling olahraga orang tua sudah tidak lagi. Saya mau orang muda bilang, bowling adalah olahraganya,” tutur Singgih.


Menurutnya, animo masyarakat kota Medan terhadap bowling sudah mengalami peningkatan. Itu terlihat dari, meningkatnya kunjungan ke sarana bowling bagi pendatang baru yang ingin mencoba mengenal bowling. Yang menjadi masalah, minimnya sarana bowling di Medan. “Akhirnya, kalau ada peminat-peminat baru jadi tidak tertampung,” ujarnya.

Alasan itu memang benar. Diakui, Medan masih memiliki dua sasana bowling yakni terletak di Perisai Plaza dan Yuki Simpang Raya Jalan SM Raja. Itu pun masih dikelolah pihak swasta sampai saat ini dengan tarif sekitar Rp 10 ribu per gamenya.

Belum lagi usaha untuk ‘mencuci’ pikiran publik, dari anggapan bowling adalah olahraga komersil yang hanya cocok bagi kalangan masyarakat ekonomi menengah ke atas. Pada hal, saat ini tercatat sudah 120 orang aktif tergabung di PBI Sumut.

Singgih menilai, masyarakat Medan masih lebih beruntung. Bila dibanding dengan bermain bowling di luar Medan, tarifnya cukup mahal. Di Jakarta sendiri seperti di Plaza Indonesia, untuk satu game dipatok biaya Rp50 ribu. Namun, bagi yang serius kata Singgih, akan diberikan kemudahan. “Kalau ada pemain punya semangat dan kemampuan, bowling centre juga tidak menutup mata,” paparnya.

Meski telah lama tetapkan secara resmi sebagai salah satu cabang olahraga dibawah KONI, persoalan lain dihadapi para pengembangan bowling centre, sampai saat ini, bowling sampai saat ini masih masuk dalam kategori hiburan yang izinnya dikeluarkan Dinas Budaya dan Pariwisata dan pajaknya cukup tinggi.

Ironis memang, pada hal keberadaan bowling di Medan, sebenarnya sudah lama berada. Seingat Singgih, pertama kali, bowling berada di Hotel Danau Toba Internasional (HDTI) sekitar tahun 1972. Kemudian menyusul di Taman Ria (saat ini Plaza Medan Fair) Jalan Gatot Subroto.

Sayangnya, kedua sasana bowling ini tidak bertahan lama. Untungnya, sekitar tahun 1996 Super Bowl hadir di Perisai Plaza. Kemudian, sasana bowling di Yuki Simpang Raya hadir, menambah pilihan tempat bagi pencinta bowling. Tampaknya, dukungan terhadap bowling dari seluruh pihak sangat diperlukan. Apalagi, melalui cabang olahraga ini, nama Sumut telah diharumkan dari bowling.


Prestasi Harumkan Sumut

Ditengah kondisi masih minimnya perhatian terhadap olahraga bowling. Berbagai prestasi untuk Sumut telah terukir disini. Dari berbagai event baik di tingkat PON maupun event lainnya, tak jarang para pebowling asal Sumut mendapatkan mendali.

Bahkan, saat ini PBI Sumut akan mengutus 3 atlet junior yakni atlet putra Imam Wiguna dan dua atlet putri Indry dan Kartika Wahyu Putri yang akan bergabung dengan atlet Indonesia pada pertandingan bowling antar pelajar se-Asia yang akan diadakan di Bangkok. Ketiga atlet junior ini juga nantinya mewakili Sumut di PON yang diadakan di Pekanbaru pada tahun 2012 mendatang. Coki
Post a Comment