Saturday, 2 November 2013

Saya Ingin Ulos Mendapat Posisi Tertinggi


Torang MT Sitorus telah lama mengambdikan dirinya dalam seni tenun ulos. Di tangannya keberadaan kain simbol keberadaban suku Batak di Tanah Air ini memiliki kualitas tinggi dengan sentuhan bahan sutra dan pewarnaan alam. Ia berkeinginan untuk mempopulerkan ulos setara degan kain-kain Indonesia, bahkan hingga merambah ke dunia fashion. Berikut petikan wawancara dengan Torang Sitorus, Rabu (10/10).    


Apa yang memotivasi Anda menekuni profesi sebagai desainer ulos?

Di umur 19 tahun, ayah dan ibu ku, sudah melihat bakat ku terhadap dunia seni, kain tenun, interior, lantas mereka mengirim ku belajar ke Yogjakarta untuk belajar tentang batik dari Balai Besar Batik.
Di Yogjakarta, saya belajar batik melalui kursus yang difasilitasi oleh Pemerintah. Saya berhasil memulai batik degan motif Batak, kemudian saya mulai mengenal Bali, seni di Bali cukup mendapat perhatian ku saat itu. Ternyata apapun bisa diolah menjadi barang berseni tinggi.
Setelah melihat keberagaman budaya yang terkumpul di Bali, lewat kerajinan, anyaman, textile, dan banyak jenis yang bisa diaplikasikan ke dunia disain, pikiran saya langsung ingat Sumatera Utara punya ulos. Saya harus punya ciri khas kalau mau sukses, itu tekat saya saat itu. Ulos dan ulos. Bersyukur orangtua mendukung ku.

Sejak kapan Anda serius sekali dalam seni batik ulos?

Di tahun pertama, setelah saya belajar batik dan pewarnaan alam, saya mulai memproduksi batik degan motif Batak. Tetapi masih dikerjakan pengrajin batik di Jawa. Saya mendapat keuntungan, tetapi kok hati gak terima ya, maksud orangtua saya saat itu ingin membantu kerajinan di tanah Batak.

Bagi Anda apa yang menarik dari ulos Batak?

Yang menarik dari ulos, karakter manusianya dulu. Orang Batak itu keras, pekerja keras maksud saya, tegas dan wibawa, semua raja. Kainnya (ulos) juga begitu. Saya pikir ini kain tertua yang dimiliki Indonesia, butuh penelitian khusus oleh ahli, tehnik tertua seperti garis-garis tanpa motif.
Ulos punya pakem atau aturan yang kuat, dan ini hanya dipunyai suku Batak, yaitu raja harus pakai ulos khusus, menikah harus pakai ulos khusus, anak punya ulos khusus, wanita pakai ulos khusus. Ini pemakaian kain yang paling ribet di dunia. Ini yang membuat saya penasaran.

Selain ulos, apakah lagi yang Anda garap? 

Di usia ku yang masih muda saat ini, proyek pertama ku adalah rumah pribadi ku sendiri, Villa Gorga di Tarutung, Tapanuli Utara, seluruh interior rumah ini berbahan ulos degan gabungan arsitektur Bali dan Batak. Di Villa Gorga saya mendapat inpirasi dari Bali. TV lokal dan TV internasional pernah meliput rumah ini. Yang menarik adalah, banyak ornamen rumah ini bahannya dari tenun ulos yang selama ini kita gak pikir bisa diolah.

Sentuhan apa saja yang diberikan pada desain ulos Anda?

Sentuhan baru hanya memperkuat motif. Saya tidak menciptakan motif baru, tetapi motif yang lama lebih dipertegas lagi, ditenun motif yang perlu dan berkarakter kuat karena peruntukannya bukan untuk adat saat itu. Membuat ulos lebih berwarna dan material dari benang-benang berkualitas.

Tantangan apa yang pernah Anda hadapi selama menekuni seni ulos?

Tantangannya banyak. Penenun itu seniman ya, egonya tinggi, susah diajari, mereka kaku, kalau sudah mengerjakan satu jenis ulos tidak mau kerjakan ulos motif lain. Kemudia saat ini mereka menenun tidak pakai hati, suka asal sehingga kualitas rendah.

Jadi apa yang Anda lakukan dengan karya ulos?

Seperti yang saya ceritakan tadi itu. Yang saya lakukan dan hadapi dahulu saat ini, saya ingin ulos mendapat posisi tertinggi. Ulos degan kualitas tinggi. Bahan yang bagus degan sutra dan pewarnaan alam, ini proyek saya tahun ini dan sudah berjalan di Villa Gorga saya. Memperkenalkan pewarnaan alam ke masyarakat Batak.

Bagaimana respon masyarakat terhadap karya-karya Anda?

Cukup mendapat tempat. Saat ini wanita Batak sudah punya rasa bangga terhadap kain tenun ulos. Dahulu wanita Batak menikah memakai kain Palembang, sekarang sudah mau memakai kain ulos. Rasa cinta kepada ulos sudah mulai tumbuh. Ini cukup membuat kita senang. Berarti perjuangan tidak sia-sia.

Lantas apa harapan ke depan dengan karya seni ulos Anda?

Bukan hanya untuk saya pribadi ya, tetapi pelaku tenun, pengrajin ulos khususnya tujuan utama adalah mempopulerkan ulos setara degan kain-kain Indonesia lainnya, dan masyarakat mau memakainya (ulos), supaya seni tenun ulos ini selalu hidup, penenun bisa sejahtera kalau produk mereka laku di pasar.

Apa saran Anda agar masyarakat ke depan bisa menghargai ulos di tengah krisis budaya sekarang ini?

Sudah saatnya kita bangga dengan apa yang kita punya. Negara ini cukup kaya dengan budaya, dari Sabang sampai Merauke. Banggalah degan kebudayaan mu, pakailah kain ulos kalau kamu menghargai karya leluhur mu. (Midian Simatupang)


Nama
Torang Mt Sitorus

Tempat Tanggal Lahir
Tarutung, 24 September 1977 

Status:
Belum Menikah

Orangtua
Ayah: Alm M Sitorus
Ibu : Senty Sirait 

Pretasi
Pemuda Pelopor Budaya Sumatera Utara
Pemenang Kria Kreasi Bidang Tekstiles HUT Dekranas tahun 2012

Post a Comment