Wednesday, 1 February 2012

Suara Lonceng di Gereja Tua

Gereja Immanuel Jalan Diponegoro Medan   ini  bangunan bersejarah di kota Medan  mulai dibangun 21 Oktober  1921
Jalan Diponegoro siang itu tak pernah  hening dari suara kenalpot dan kelekson kendaraan yang melintasinya.  Berbeda ketika di era tahun 1920-an. Hanya suara cari lonceng sebuah gereja yang terdengar di jalan ini. Itu pun berbunyi hanya satu jam sekali.

Loceng buatan Belanda tahun 1922
Mesin jam sekaligus menggerak bandul pada lonceng gereja

Suara lonceng itu dahulunya berasal dari bangunan GPIB Immanuel. Gereja ini salah satu bangunan bersejarah di kota Medan karena  mulai dibangun 21 Oktober  1921 lalu. Dahulu, gereja ini bernama Indische Kerk atau Staatskerk, tempat peribadatan bagi komunitas warga negara Belanda  penganut agama Kristen Protestan di hari minggu, ketika  kota Medan masih dibawah pengawasan pemerintahaan Hindia Belanda.

Konon, sebelum tahun 1994, jemaat yang beribadah disibi  masih menggunakan bahasa Belanda. Setelah tahun 1949,  gereja ini  sudah mulai melayani kebaktian menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Belanda dengan pendeta saat itu bernama Uktolseja.

Jejak historis  gereja ini, hingga saat ini masih terlihat.  Arsitektur bangunannya yang bergaya renaisence masih dipertahankan. Interior berbahan kayu pada bagian dalam masih dipertahakan. Begitu pula gantungan lampu pada plafon, altar, mimbar khotbah, kursi jemaat   yang masih terpelihara dan tetap dipergunakan.

Namun, karena usianya yang sudah cukup tua. Ada beberapa perubahan yang terpaksa dilakukan.  Pada tahun 1948  lantai gereja yang dahulu dari papan, diganti dengan ubin.  Pada tahun 1961, dilakukan renovasi pada dinding dan plafon karena sebahagian telah rusak dimakan rayap dan terakhir pada tahun 1992 dinding menara dan pintu depan diganti dengan keramik warna biru.

Keunikan dari gereja,  pada bagian menara terdapat jam dan sebuah lonceng buatan Belanda tahun 1922. Dahulu, bila jarum panjang berada diposisi angka dua belas, bandul pada lonceng ini langsung berdentang secara otomatis, mecah kehinangan kota Medan hingga sejauh 3 kilometer.

Jam dan suara lonceng di  gereja ini lah ketika itu dipergunakan masyarakat menjadi salah satu petunjuk waktu, selain jam yang berada di gedung Balai Kota, Jalan Balai Kota  Medan.  Sayangnya, jam ini berhenti berputar karena sulit diperbaiki akibat sulitnya mendapatkan onderdil. 

“Hanya lonceng ini yang hingga  saat ini masih bisa digunakan. Biasanya kita bunyikan kalau ibadah hari minggu, ada peberkatan pernikahan dan di malam pergantian tahun,” sebut  seorang sekuriti yang mendampingi kami mengitari gereja yang kini telah berusia sekitar 90 tahun ini.
Post a Comment