Tuesday, 2 June 2015

Irama Senduh Alat Musik Tradisi Simalungun

Pengaruh alat musik modern dan minimnya minat genereasi muda, membuat alat musik tradisional Simalungun, terancam punah.


Sudah puluhan tahun, Rosul Damanik, 57 tahun, menggeluti profesi sebagai pemain musik tradisioanal Simalungun.  Selain pemain musik, Rosul juga menggeluti usaha pengrajin alat musik tradisional Simalungun.

Sebagai pemain musik, ayah lima anak ini sering mendapat orderan pekerjaan  di berbagai kegiatan pesta adat Simalungun dan beberapa kali mengikuti event “Simalungun Go International” yang pernah diadakan Pemerintah Kabupaten Simalungun di Kuala Lumpur, Malaysia.

Eksistensinya dalam melestarikan alat musik tradisonal Simalungun, membuat Rosul Damanik juga pernah mendapatkan penghargaan dalam rangka pengembangan alat musik dan  budaya Simalungun dari Bupati Simalungun, JR Saragih, dua tahun lalu.

Kendati demikian, dari rawut wajahnya, terpancar kegelisahan. “Kalau gak ada anak saya yang meneruskan, saya kuatir musik tradisioanal Simalungun bisa hilang,” ungkapnya.

Kegelisahan Rosul Damanik memang  beralasan. Apalagi, jumlah pemain musik tradisioanal Simalungun, sebutnya, sudah menurun dan kini bisa dihitung dengan jari. “Untuk pemain Serunyai bolon sudah  banyak yang pensiun karena sudah tak sanggup lagi, meniup  serunyai,” tuturnya.

Tak sekadar itu, Rosul mengatakan, pengaruh alat musik modern dan minimnya minat genereasi muda menggeluti musik tradisional Simalungun, serta masih minimnya perhatian pemerintah menjadi tantangan berat untuk mempertahkan alat musik tradisional Simalungun dari ancaman kepunahan.

Dewan Kesenian Simalungun-Siantar dalam bukunya Seminar Kecil Kesenian Siamalungun menyebutkan, alat-alat musik tradisonal Simalungun dibagi atas empat bagian. Pertama, alat-alat tiup yang terdiri dari ole-ole, saligung, sordam, sulim, sarunei buluh, sarunei bolon dan tulila.

Kedua, alat gesek, terdiri dari arbab. Ketiga, alat-alat petik, terdiri dari: husapi dan hodong-hodong. Keempat, alat-alat pukul, terdiri dari: gonrang sidua-dua, gonrang sipitu-pitu (gonrang bolon), mongmongan, sitalasayak, ogung, gerantung dan jadjaulu (tengtung).

Dahulu, alat-alat musik ini digunakan masyarakat Simalungun dalam acara upacara adat seperti, pernikahan, seseorang yang meninggal dunia yang sudah saur matua (usia uzur) dan sebagainya.

Sayangnya, penggunaan alat musik tradisional Simalungun, malah semakin tersisih. Rosul mencontohkan, dalam pesta adat Simalungun, musik gondang sudah bisa dimainkan oleh keyboard, dengan menggunaka flasdisk. “Irama musiknya jadi imitasi. Kalau pun menggunakan alat musik tradisional, tidak berlama-lama,” tuturnya.

Rosul berharap, Pemerintah Kabupaten Simalungun, memberikan perhatian serius untuk pelestarian alat musik tradisional karea Pembinaan yang dilakukan  Pemerintah Kabupaten Simalungun masih temporer.

“Harapan saya, pemerintah membuat kebijakan, diklat, sehingga alat musik tradisional Simalungun tidak hilang ditelan masa,” pintanya. (Midian Simatupang)

Post a Comment