Friday, 1 May 2015

Dari Tiongkok ke Tanah Deli

Orang Tionghoa sudah tinggal di Kota Medan, sejak dimulai pembukaan lahan perkebunan tembakau di era kedudukan Hindia  Belanda. 

Foto:Kebun tembakau Deli tempo dulu

Jembatan kebajikan di Jalan Zainul Arifin, Medan, yang menghubungkan Jalan  Zainul Arifin dengan Jalan Gajah Mada, masih terlihat kokoh.  Jembatan ini dibangun pada tahun 1916 lalu, untuk mengenang jasa Tjong Yong Hian, seorang saudagar dan tokoh etnis Tionghoa yang berjaya di era kedudukan Hindia  Belanda, tahun 1850-1911. 

Tjong Yong Hian merupakan abang kangdung Tjong A Fie yang sukses membangun bisnis perkebunan di Tanah Deli. Kesuksesan membuat Tjong Yong Hian , memiliki hubungan dekat dengan Sultan Deli dan Pemerintah Hindia Belanda. Tjong Yong Hian kemudian diangkat sebagai "Kapitan Tionghoa”. Setelah Tjong Yong Hian wafat, jabatan "Kapitan Tionghoa” kemudian dilanjutkan oleh Tjong A Fie. Itu sebabnya, kedua tokoh ini tidak terlepas dari sejarah, masuknya masyarakat etnis Tionghoa ke Tanah Deli. 

Berbagai catatan sejarah menyebutkan, masyarakat etnis Tionghoa awalnya sudah tinggal di kawasan Labuhan Deli—persis di daerah mulut sungai Deli,  Kecamatan Kota Medan Marelan. Pada tahun 1863, Jacobus Nienyus, Van Der Falk dan Elliot, warga Belanda, ketika pertama kali datang ke Sumatera untuk  membuka perkebunan tembakau, telah menemukan sekelompok orang Tionghoa di kawasan ini.  
Tjong A Fie

Menurut Ketua Paguyuban Sosial Marga Tinghoa Indonesia (PSMTI) Sumatera Utara, Eddy Djuandi, 66 tahun, masyarakat etnis Tionghoa sudah mulai ada di  Labuhan Deli. Dia merujuk pada ditemukannya Situs Kota Cina di kawasan Danau Siombak, Kelurahaan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan. 

Sebelumnya Edwards MacKinnon, seorang ilmuwan asal Amerika Serikat dalam disertasinya di Cornell University mengungkapkan bahwa Kota Cina di Medan pernah menjadi bandar perniagaan di Sumatera bagian timur pada abad ke 11.

“Dahulu itu kota perdagangan. Tiang kapal dan arca masih ditemukan di sana,” tambah Eddy. 

Penemuan Situs Kota Cina di kawasan Marelan,  menjadi salah satu petunjuk sejarah datangnya orang Tionghoa ke Kota Medan. Eddy mengatakan, masih banyak lagi peninggalan-peninggalan sejarah, yang menunjukkan etnis Tionghoa sudah sejak lama tinggal menetap di Kota Medan. 

Dia merujuk pada rumah Tjong Yong Hian—sekarang menjadi Hotel Kesawan dan rumah Tjong A Fie di kawasan  Jalan Ahmad Yani yang populer di sebut Jalan Kesawan. Dahulu orang-orang Tionghoa dari Malaka dan Tiongkok datang dan menetap di daerah ini sehingga Kesawan menjadi sebuah Pecinan. Setelah kebakaran besar melalap rumah-rumah kayu di Kesawan pada tahun 1889, para warga Tionghoa lalu mulai mendirikan ruko-ruko dua lantai yang sebagian masih tersisa hingga kini.

Foto: Kesawan Tempo Dulu

“Dahulu kawasan ini (Kesawan) adalah sawah. Dari sanalah titik nol Kota Medan. Orang Tionghoa dulu sering mengatakan mau ke sawah. Karena belum pasih berbahasa Indonesia jadi disebut kesawan,” tuturnya. 

Meningkatnya, kebutuhan tenaga kerja di perkebunan tembakau, membuat para saudagar Belanda, kemudian merekrut tenaga kerja kasar dari luar Indonesia, salah satunya dari daratan Tiongkok. Adanya lapangan pekerjaan akhirnya membuat masyarakat Tionghoa akhirnya memilih menetap tinggal di Medan. “Setelah punya duit, bangun rumah dan akhirnya menetap di sini,”  terang Eddy.

Itu sebabnya, sebut Eddy, keberadaan masyarakat Tionghoa telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah terbentuknya Kota Medan.  Etnis Tionghoa juga telah memberi peranan penting dalam membangun Kota Medan, dari masa sebelum kemerdekaan hingga di era reformasi saat ini. 

Tokoh Tionghoa Sumatera Utara, Brilian Moktar SE MM mengamini pernyataan Eddy Djuandi. Apalagi kata  Brilian, reformasi menjadi kado bagi masyarakat Tionghoa khususnya di bidang politik, untuk lebih meningkatkan perannya dalam membangun bangsa dan negara lebih baik lagi.

Meski demikian, sebut Anggota DPRD Sumatera Utara ini, cita-cita reformasi yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, yakni salah satunya  adalah Bhineka Tunggal Ika, belum tercapai, karena masyarakat etnis Tionghoa  belum melihat adanya persamaan hak antar sesama anak bangsa. 

“Sebab itu saya memperjuangkan itu (persamaan hak). Kita harus bersatu dulu dalam ideologi, sehingga kita punya rasa memiliki negara Indonesia,” papar Politisi PDI Perjuangan yang menjadi satu-satunya etnis Tionghoa yang meraih penghargaan Melati pada HUT ke-53 Gerakan Pramuka Tingkat Kwartir Daerah Sumut di Kabupaten Palas, September 2014 lalu ini. (MIDMAGZ|COKI)

Post a Comment