Wednesday, 15 April 2015

Ketika Pengrajin Tenun Tradisonal di Taput Gelisah

Pengrajin tenun ulos dan sarung yang masih menggunakan alat Kasuksak (alat tenun bukan mesin) di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) mengharapkan akan bantuan permodalan dan promosi hasil kerajinannya dari Pemerintah Kabupaten Taput.

Foto: www.nababan.wordpress.com

"Umumnya, kami para penenun memasarkan hasil tenunan, bukan pada pembeli langsung. Melainkan kepada para pengumpul. Itulah persoalan mendasar yang menjadikan para penenun kerap sebagai korban monopoli dari para pengumpul,” ungkap  Cristiani Simanjuntak (39) di Siatas Barita, Taput. 

Selain sebagai modal penopang aktivitas tenunnya agar tetap eksis, menurut warga Dusun Banjar Ginjang, Desa Enda Portibi, Siatas Barita, Taput ini, bantuan modal tersebut juga dapat digunakan untuk lepas dari ikatan para pengumpul tenunan, sehingga para penenun dapat memasarkan tenunnya dengan bebas dan juga ikut andil dalam penentuan harga hasil karya mereka.

"Padahal pasar dari tenunan ini sangat banyak bahkan hingga ke kawasan Jambi,Pekan baru KepriJakarta Karena itu jika kita bertenun dan dimodali oleh pemerintah kita bisa lepas dari ikatan para pengumpul,” ujar penenun yang masih menggunakan alat manual kasuksak itu.

Menurut Cristiani, ulos hasil tenunannya, pada dasarnya merupakan barang tenunan unggulan jika dinilai dari sisi harga. Sebab jika dijual kepada pembeli dan bukan pada pengumpul harganya berkisar Rp800 ribu hingga Rp3 juta per helai. Namun jika dijual kepada penadah harganya turun drastis pada kisaran harga Rp600 ribu hingga Rp1,5 juta.

Penenun lainnya dengan menggunakan alat tradisional kasuksak, Serita boru Silitonga (63), juga menyebutkan bahwa ancaman lain bagi para penenun adalah industri tekstil untuk barang tenunan yang biasa diproduksi dengan tenunan tangan.

Hadirnya hasil tenunan ulos dan sarung yang diproduksi industri tekstil dan dijual dengan harga yang sangat murah di pasaran, juga menjadi ancaman bagi mereka. 

"Saat ini, secara nyata, hasil pabrikan tersebut banyak didatangkan dari luar daerah ke Taput. Hal ini, juga harus menjadi perhatian Pemerintah,” pintanya.

Dia berharap, para penenun memang harus diperkuat sehingga kelak mampu bersaing dengan produk industri yang saat ini sudah masuk ke daerah itu.

Sementara Bupati Taput, Nikson Nababan, mengatakan, tenunan ulos di daerah Tapanuli pada dasarnya lahir untuk kebutuhan keseharian yang selanjutnya masuk dalam konsep adat. 

Saat ini yang harus diperhatikan guna melestarikan tenunan tersebut adalah fungsi. Karena itu, secara mutlak, penenun ulos masih merupakan bagian terpenting yang harus dipertahankan agar fungsi barang tenun ulos dapat dibudayakan dan dilestarikan.

“Untuk persoalan dukungan modal dan promosi pihak Pemkab Taput akan lebih maksimal lagi lewat Dinas Perindustrian dan Koperasi, sehingga para penun dapat terus beraktifitas sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif,” tandasnya. (Limakoma|M Manalu)engrajin tenun ulos dan sarung yang masih menggunakan alat Kasuksak (alat tenun bukan mesin) di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) mengharapkan akan bantuan permodalan dan promosi hasil kerajinannya dari Pemerintah Kabupaten Taput.

"Umumnya, kami para penenun memasarkan hasil tenunan, bukan pada pembeli langsung. Melainkan kepada para pengumpul. Itulah persoalan mendasar yang menjadikan para penenun kerap sebagai korban monopoli dari para pengumpul,” ungkap  Cristiani Simanjuntak (39) di Siatas Barita, Taput. 
Foto:www.griyawisata.com

Selain sebagai modal penopang aktivitas tenunnya agar tetap eksis, menurut warga Dusun Banjar Ginjang, Desa Enda Portibi, Siatas Barita, Taput ini, bantuan modal tersebut juga dapat digunakan untuk lepas dari ikatan para pengumpul tenunan, sehingga para penenun dapat memasarkan tenunnya dengan bebas dan juga ikut andil dalam penentuan harga hasil karya mereka.

"Padahal pasar dari tenunan ini sangat banyak bahkan hingga ke kawasan Jambi,Pekan baru KepriJakarta Karena itu jika kita bertenun dan dimodali oleh pemerintah kita bisa lepas dari ikatan para pengumpul,” ujar penenun yang masih menggunakan alat manual kasuksak itu.

Menurut Cristiani, ulos hasil tenunannya, pada dasarnya merupakan barang tenunan unggulan jika dinilai dari sisi harga. Sebab jika dijual kepada pembeli dan bukan pada pengumpul harganya berkisar Rp800 ribu hingga Rp3 juta per helai. Namun jika dijual kepada penadah harganya turun drastis pada kisaran harga Rp600 ribu hingga Rp1,5 juta.

Penenun lainnya dengan menggunakan alat tradisional kasuksak, Serita boru Silitonga (63), juga menyebutkan bahwa ancaman lain bagi para penenun adalah industri tekstil untuk barang tenunan yang biasa diproduksi dengan tenunan tangan.

Hadirnya hasil tenunan ulos dan sarung yang diproduksi industri tekstil dan dijual dengan harga yang sangat murah di pasaran, juga menjadi ancaman bagi mereka. 

"Saat ini, secara nyata, hasil pabrikan tersebut banyak didatangkan dari luar daerah ke Taput. Hal ini, juga harus menjadi perhatian Pemerintah,” pintanya.

Dia berharap, para penenun memang harus diperkuat sehingga kelak mampu bersaing dengan produk industri yang saat ini sudah masuk ke daerah itu.

Sementara Bupati Taput, Nikson Nababan, mengatakan, tenunan ulos di daerah Tapanuli pada dasarnya lahir untuk kebutuhan keseharian yang selanjutnya masuk dalam konsep adat. 

Saat ini yang harus diperhatikan guna melestarikan tenunan tersebut adalah fungsi. Karena itu, secara mutlak, penenun ulos masih merupakan bagian terpenting yang harus dipertahankan agar fungsi barang tenun ulos dapat dibudayakan dan dilestarikan.

“Untuk persoalan dukungan modal dan promosi pihak Pemkab Taput akan lebih maksimal lagi lewat Dinas Perindustrian dan Koperasi, sehingga para penun dapat terus beraktifitas sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif,” tandasnya. (Limakoma|M Manalu)
Post a Comment