Saturday, 28 March 2015

Sejarah Medan dari Gedung Balai Kota

Gedung eks Balai Kota dikenal sebagai simbol kejayaan Kota Medan di masa lalu. 

Gedung eks Balai Kota di bagian depan Grand Aston City Hall Hall, Jalan Balai Kota, Medan. Foto: www.pemkomedan.go.id

Gedung eks Balai Kota di bagian depan Grand Aston City Hall, Jalan Balai Kota, Medan, masih tetap terlihat megah berdiri. Pilar-pilar gaya Yunani pada bagian depan bangunan dibalut dengan warna serba putih begitu anggun dipandang. Meski sudah berusia ratusan tahun, hawa Kota Medan tempo dulu masih bisa dirasakan dari desain arsitekturnya yang bergaya eropa awal abad 20.

Gedung eks Balai Kota memang memiliki keunikan tersendiri dibanding gedung tua lainnya di Kota Medan. Misalnya, pada bagian menara terdapat jam dan lonceng buatan sebuah pabrik di Belanada Van Bergen yang dipasang pada tahun 1913. Jam ini merupakan sumbangan Tjong A Fie, seorang saudagar Cina yang sukses membangun perkebunan di Tanah Deli.

Kesawan Tempo Dulu. Foto:www.kaskus.co.id

Di masa kedudukan kolonial Belanda, jam ini selalu berdentang setiap satu jam sekali dan menjadi petunjuk waktu di sekitar kawasan Lapangan Merdeka tempo dulu.
Gedung ini dahulunya digunakan sebagai pusat pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda yang dibangun CM Boon, seorang arsitek Belanda pada tahun 1908, terakhir digunakan sebagai kantor Wali Kota Medan tahun 1990 dan sejak tahun 2005 lalu, berubah peruntukan menjadi D'Haritage Cafe di bawah manajemen Grand Aston City Hall. 

"Sesuai dengan visi kami, ini merupakan solusi untuk menyelamatkan gedung Balai Kota. Beruntung ada pengusaha yang mau membangun hotel Grand Aston. Pemko Medan juga sudah menunjukan komitmennya tidak menghancurkan gedung itu," sebut Hairul, Ketua Pelaksana Harian Badan Warisan Sumatera (BWS) .

BWS merupakan salah satu lembaga nirlaba yang selama ini sangat getol dalam meperjuangkan pelestarian bangunan-bangunan sejarah di Kota Medan, salah satu diantaranya adalah gedung eks Balai Kota Medan.

Kesawan Tempo Dulu Foto:www.szlovely.wordpress.com


Berbagai catatan sejarah menuliskan, berdirinya gedung Balai Kota Medan memiliki hubungan kuat dengan sejarah berdirinya Kota Medan. Adalah Jacobus Nienhuys, seorang saudagar asal Belanda yang menjadi pelopor berdirinya Kota Medan.

Ketika masa kepimpinan Mahmoed Perkasa Alam Shah sebagai Sultan Deli, Jacobus Nienhuys mendapat kepercayaan membuka perkebunan tembakau di wilayah bagian selatan Labuhan di bawah perusahaan Deli Maatschapij Company.

Keberhasilan Jacobus Nienhuys membuka perkebunan Tembakau, lambat-laun menarik minat para saudagar dan perusahaan dagang asing membuka perkebunan tembakau di Tanah Deli, termasuk juga masyarakat pribumi yang berdatangan untuk mengadu nasib.

Kedatangan para pedagang asing dan meningkatnya urbanisasi penduduk pribumi memberika dampak positif terhadap ekonomi Tanah Deli. Melihat Medan-yang saat itu disebut kampung Medan Putri, semakin berkembang, pembanguna sarana dan prasarana dibutuhkan, termasuk gedung Balai Kota Medan.

Dengan semakin ramainya aktivitas perdagangan dan komunitas masyarakat dari berbagai etnis, mendorong pemerintahan Kolonial Hindia-Belanda memindahkan Ibukota Asisten Residen Deli ke Medan tahun 1879. Tidak hanya itu, pada tahun 1887 ibukota Residen Sumatera Timur dari Bengkalis ikut dipindahkan ke Kota Medan termasuk Istana Kesultanan Deli yang semula berada di Kampung Bahari (Labuhan) juga pindah seiring dengan selesainya pembangunan Istana Maimoon pada tanggal 18 Mei 1891, sehingga Ibukota Deli telah resmi pindah ke Medan.

Pada tahun 1915 Residensi Sumatera Timur ditingkatkan kedudukannya menjadi Gubernemen. Pada tahun 1918 Kota Medan resmi menjadi Gemeente (Kota Praja) dengan Walikota pertama, Baron Daniel Mackay.

Nah, bagi yang ingin merasakan bagaimana suasana Medan Tempo Dulu, dapat mengunjungi D'Haritage Cafe di Grand Aston City Hall. 
Post a Comment