Wednesday, 19 February 2014

Verayani Jioe dan Kopi Macehat








Verayani Jioe sangat menyenangi statusnya sebagai pebisnis kopi. Di usaha ini dia terus mengeksplore kemampuan untuk menciptakan kopi terbaik. Baginya, kopi bukan hanya bisnis, namun bisa dinimati. 

Suasana Macehat Kafe terletak di Jalan Karo Nomor 20, Medan, Rabu (5/2), begitu tenang. Alunan musik instrumen yang mengalun lembut menambah rasa nyaman, meski siang itu, meja dan kursi yang tersedia hampir padat terisi pengunjung.
Tak lama, sosok seorang perempuan berpenampilan sederhana, dengan penuh senyum datang menghapiri. Perempuan kelahiran 2 November 1982 itu adalah Verayani Jioe. Sosoknya, sangat dikenal karena kesuksesannya mendirikan Macehat Coffee, salah satu gerai dan produsen kopi yang citarasanya sudah diakui di Kota Medan. 
Kebanyakan pengunjung yang datang ke kafenya kalangan pekerja dan eksekutif. Meski demikian, menu kopi yang ada di sini juga cocok untuk semua kalangan. Tak hanya itu, ia juga juga menjual kopi kemasan seperti:  Sumatran Luwak (Civel), Sumatran Gourmnet, Sumatran Peaberry, Sumatran Top 20 dan Drip Coffee. 
Selain memenuhi kebutuhan lokal, Verayani juga mengekspor sebahagian biji kopi ke sejumlah negara luar, namun dengan jumlah yang terbatas. "Kita lebih utamakan untuk lokal dulu," paparnya.      
Kopi bagi pribadi pemilik kulit putih ini menyimpan banyak manfaat, bukan hanya bisnis, namun bisa dinikmati. "Kalau bagi saya harus dimulai dari kopi setiap bagi," terangnya sembari terseyum simpul.  
Kehidupan Verayani sekarang ini seakan sulit dipisahkan dari kopi. Sejak menekuni usaha kopi, Verayani terjun langsung mulai sebagai roaster (penyangrai) hingga menjadi produk. Hal itu dilakukannya untuk menghasilkan kopi terbaik. 
Untuk mengetahui perkembangan kopi, tak jarang Verayani mengunjungi pameran kopi di luar negeri. Sepanjang 2013 lalu, ia sudah empat kali ke luar negri diantaranya, Singapura dan Taiwan. "Tahun ini ingin lebih jauh lagi," tambahnya.   
Kopi racikannya diperoleh dari petani kopi di Sumatera Utara, seperti dari Brastagi sampai Sidikalang. "Pokoknya yang bisa kita jangkau selama dua jam. Di petik hari itu dan dibawa pulang hari itu juga ke Medan untuk menjaga kesegarannya," ungkap Verayani.   
Verayani Jioe juga saat ini sedang menangkar sejumlah luak, untuk menghasilkan biji kopi luak yang lagi naik daun di dunia.  "Saya hobi di kuliner, pertamanya ingin belajar Chef, tapi kata orangtua buat apa belajar masak-masak kalau jauh-jauh kuliah (
Australia)," kata Verayani Jioe menceritakan awal ketertarikannya untuk terjun di bisnis kuliner.
Meski demikian, wanita singel yang akrab disapa Vera ini tak kehilangan semangat dalam mengembangkan hobi. Ia kemudian memilih melanjutkan pendidikan ke jurusan Food Technology (Industri Pangan) di Melboure, Australia. 
Banyak belajar fungsi-fungsi dari setiap bahan baku pangan di negeri Kangguru itu, membuat Vera tertarik merintis bisnis kuliner begitu kembali ke Medan. Namun, usaha kuliner mulai dirintis setelah berhenti membantu usaha import mesin-mesin produksi milik ayahnya. 
Usaha kuliner pertama kali digelutinya adalah home industri, membuat susu kedelai, yogurt, termasuk pizza yang dibuat tanpa bahan pengawet dan pewarna. Makanan dan minuman ini disuplay Vera ke anak-anak sekolah.         
"Usaha ini saya mulai dari nol, dimulai dari rumah. Ketika itu dengan sistim delivery," kenangnya. Sayangnya, usaha home industri yang digagas Vera tak berlangsung lama karena tak banyak peminat disebabkan masih banyak masyarakat tidak paham mengenai makanan tanpa pengawet.  
Meski gagal membangun home industri makanan, Vera tak patah semangat. Melihat ayahnya menjual mesin yang biasa digunakan untuk menggonseng kopi, nalurinya membuka usaha kopi muncul. Ide membuka usaha menjual biji kopi dan kopi mendapat dukungan dari ayahnya. Tahap awal, Vera memulai dengan menjual biji kopi dan kopi kemasan di rumahnya. 
Tanpa diduga, kopi hasil racikannya mendapat sambutan banyak orang, bahkan tak sedikit warga negara asing (WNA) yang sedang berkunjung ke Medan singgah ke rumahnya untuk belanja oleh-oleh. 
Melihat banyaknya tamu dari luar negeri yang ingin melihat proses dan mencicipi kopinya, Vera akhirnya membuka toko kopi untuk menjual biji dan kopi dengan brand Macehat. Brand ini diambilnya dari brand yang pernah dipakai pada usaha home industri sebelumnya. "Macehat diambil ari makan cepat dan sehat," tukas dia. 
Tak hanya itu, karena citarasa kopi racikannya sudah menarik hati masyarakat Medan, Vera kemudian mendirikan kafe dengan brand yang sama.  "Macehat fokusnya di biji kopi, semuanya lebih mendukung dengan kafe," pungkasnya.     (midian simatupang)

Kunjungi juga: 
Post a Comment