Friday, 20 September 2013

Menonton Film Karya Anak Medan




Di tengah banyak perusahaan rumah produksi berslaka nasional gencar memproduksi film-film terbaru, kalangan seniman di Sumatera Utara tak mau ketinggalan. Mereka pun berani terjun di industri ini.    

Penulis: Midian Simatupang 


H Amsyal terlihat sibuk di studio rumah produksi miliknya di Jalan Utama No 1- A Helvetia, Medan, Rabu sore (21/8). Pria bertubuh tambun berdarah Minang ini sedang meyelesaikan pembuatan film terbarunya. "Bulan Juli lalu kita sudah selesai shooting film pendek "Padan". Sekarang sedang tahap edit dan mejelang puasa 2013 kita membuat film iklan TV menyambut Puasa " Ngongesa ", katanya. 

H Amsyal sudah menggeluti dunia perfilman sejak tahun 1982. Awalnya ia masih menjadi pemain di beberapa film produksi televisi Medan. Dua film yang masih diingatnya adalah film "Menuai Badai" yang disiarkan program akhir pekan, TVRI Nasional di Jakarta tahun 2002. Saat itu ia sebagai peran utama. 

Kemudian tahun 2008, ia bermain pada film sinetron  “Anak Siampudan“ sebanyak 14 eposide.
Memiliki pengalaman di perfilman, ia pun mendirikan rumah produksi di bawah bendera PT Widy Production tahun 2007.

 Di perusahan ini, ia merangkul tenaga profesional yang berpengalaman seperti wartawan media cetak, kameranen televisi dan para seniman teater untuk menggarap film. Sejumlah film karyanya adalah, film "Pesona Wisata Langkat“, film Profile ”Kota Medan 314 Tahun“, Film Profil PT Pertamani Medan Grup, VCD “ Sosialisasi Undang Undang Industri dan Perdagangan “, Film Pendek “Padan“. 
Ia melihat perfilman di Sumatera Utara akan semakin berkembang.

 "Saya sangat optimis perfilman di Sumut maju dengan di buktikannya sekarang banyak berdiri Production House di Sumut walaupun selama ini pemerintah tak mendukungnya padahal di Undang-Undang Film sepenuhnya tanggung jawab Pemerintah," katanya bersemangat. 

Media Identitas

Berkembangnya industri perfilman di Sumatera Utara juga diakui Andi Hutagalung. Menurut pendiri Media Identitas ini, film hasil karya anak Medan kini sudah mendapat sambutan dari masyarakat Sumatera Utara. Ia mencontohkan, film karyanya saat ini malah sudah ditunggu penonton setianya. 

"Sangat di tunggu-tunggu karena kontennya bicara lokal sosial dan melibatkan langsung masyarakat lokal," ujarnya saat disinggung sejauhmana sambutan masyarakat terhadap karyanya.   

Di kalangan insan sineas Medan, nama Andi Hutagalung sudah tak asing lagi didengar. Pria ramah dan murah senyum ini dikenal piawai dalam menggarap film dokumenter. Bukti itu terukur dari tidak sedikit prestasi diperoleh dari berbagai festival film. Film Opera Batak yang digarapnya misalnya, meraih juara pertama di Festival Film Dokumenter di Bali tahun 2011. 

Kemudian juara pertama Lomba Video Dokumenter SOi Indonesia tahun 2010, dan juara pertama Festival Film Kebudayaan Nasional 2012 yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kota Medan. 

Andi mengawali kariernya di industri perfilman dari ikut pelatihan di sebuah lembaga (BMS) di kota Medan. Untuk mendalami dunia perfilman ia rela menjadi relawan liputan video selama dua tahun.
"Dari awal itu saya jadi lebih tertarik untuk mendalaminya terus, coba-coba buat film bersama dengan kawan-kawan di kampus ITM yang akhirnya membuat sebuah komunitas film yg bernama KoFi 52, dan setelah itu kami mendapatkan job kecil-kecilan dari lembaga anak-anak di kota Medan," katanya mengisahkan perjalanan kariernya. 

Seiring berjalannya waktu, ia memutuskan membuka usaha perfilman sendiri dengan mengibarkan bendera Media Identitas pada tahun 2011. Selama terjun di perfilman, sudah tujuh judul film fiksi pendek dan 18 judul film dokumenter dihasilkannya. 

 "Saya mendirikan Media Identitas yang lebih terfokus di dalam bidang spesialis videography yang mengerjakan video profil, video promosi, video report, video klip, film dokumenter dan film fiksi sampai dengan sekarang," pungkasnya. 

Menurut Andi, agar industri perfilman di Sumatera Utara semakin maju ke depan, kalangan pelaku industri perfilman harus berani membuat cerita konten lokal, agar bisa sekalian mempromosikan daerah sendiri. "Kerja-kerja seperti ini kita harus bersatu untuk merubah paradikma film lokal, agar lebih dicintai di daerah kita sendiri, kalau bicara keluar juga ini yang sangat dibutuhkan orang luar bisa melihat potensi lokal," tuturnya.

Opique Pictures

Semangat menggarap film lokal tak pernah kendur di pikiran M Taufik Pradana. Meski sudah ratusan judul film dibuat, walau lebih banyak produksi film durasi pendek. Diantaranya adalah dokumentasi acara, film fiksi pendek, film dokumenter pendek, iklan produk, iklan layanan masyarakat, videoklip, liputan feature bahkan poto slide.

Dalam waktu dekat, Ketua Umum Opique Pictures ini akan memproduksi lagi film indie durasi panjang berjudul “Medan Buzzer”. Garapan film ini bekerjasama dengan distro “punya medan” dan komunitas jejaring sosial “medan buzzer”. 

"Masih dengan cara kreatif indie yang masih serba kekurangan dalam hal mekanisme dan pendanaan, namun sejauh ini beberapa UKM sudah di gandeng dan beberapa sudah ada mendukung dana walau masih terkumpul minimal," ujarnya.  

Komunitas Opique Pictures terbentuk berawal dari ketika ia masih duduk di kelas dua SMA, dengan teman-temannya iseng-iseng mendokumentasikan sebuah perjalanan pada tahun 2008 lalu dan tanpa sengaja membuat nama produksi Opique Pictures.

 Setelah mengetahui bagaimana cara sedernaha memproduksi film sederhana dan Kemudian mengikuti ajang Festival Film Anak dan mendapatkan penghargaan, menjadi motivasi dasar baginya mendalami dunia sinematografi.

Tak kalah dengan rumah produksi lain, komunitas ini juga banyak menyabet penghargaan dari berbagai ajang festival film diantarnya, Sutradara terbaik versi film dokumenter di Festival Film Anak (FFA) pada tahun 2008, dalam film berjudul “Rumah Kita”, Editor terbaik versi film fiksi FFA pada tahun 2009 dalam film berjudul “Gulungan Uang”, Aktor terbaik versi film fiksi FFA pada tahun 2009 dalam film berjudul “Impian Anakku”, juara dua film dokumenter FFA pada tahun 2010 dalam film berjudul “Museum, Sejarah Yang terlupakan”. 

"Saat ini komunitas kami masih beridiologi independen dan menguatkan wadah penyaluran bakat. Lambat laun dari non komersil guna mambantu usaha kawan, dan ternyata ini bisa di jadikan sumber pemasukan. Dari dana yang didapat diputar menjadi modal produksi film idealis guna mengikuti ajang kompetisi film lainnya," terangnya. 

Aron Arts Production


Aron Arts Production juga sedang menggarap film terbarunya. Perusahaan yang didirikan Joey Bangun ini tak lama lagi akan meluncurkan film berjudul "Perlajangen" (Merantau). 

Joy Bangun memang dikenal dengan identitasnya sebagai pembuat film khas budaya Karo. Sudah sepuluh film yang diproduksinya, yakni berjudul Anak Mami, Rondong Durhaka, Jinaka, Melumang La Kepaten, Erpudun La Erpadan, Dalan Robah, Boru Panggoaran, Latersia Juma Peranin, dan Calon Bupati. 

Yang memotivasi dirinya terjun di bidang perfilman karena ia ingin merealisikan imajinasi pikiran pada kearifan lokal yang ada di Sumut.
Ia memulai profesinya di dunia film sejak tahun 2005. Saat itu ia dikontrak sebagai Asisten Sutradara oleh sebuah production house di Jakarta untuk memproduksi sinetron Bawang Merah Bawang Putih. 

Besarnya cinta pada dunia perfilman mendorongnya untuk mendirikan usaha sendiri. Tahap awal dilakukannya adalah mencoba menawarkan ke produser lokal untuk menggarap video klip daerah. 

"Setelah dia (produser lokal) puas, saya menawarkannya untuk membuat film. Pelan-pelan beberapa produser mulai menghubungi saya dan saya bisa membuat lebih banyak film," katanya mengisahkan. 

Melihat peluang bisnis di perfilman cukup menjanjikan, ia akhirnya mendirikan Aron Arts Production. Hasilnya pun tak sia-sia, karya filmnya laku keras. "Sangat menguntungkan. Film saya paling sedikit laku sepuluh ribu sampai dengan dua puluh lima ribu keping,".

Menurutnya, film mengisahkan kehidupan sosial masyarakat pasti laku di pasaran karena televisi nasional hanya menggambarkan secara nasional saja. "Film-film seperti akan semakin maju, apresiasi sangat mendukung, hanya orang-orang kreatifnya yang masih kurang," paparnya.

Daniel Irawan
Pengamat perfilman Medan, Daniel Irawan, melihat fenomena banyak seniman Medan memproduksi film beberapa tahun belakangan ini merupakan tanda positif industri perfilman di Medan sedang bangkit. Hanya, kalangan perfilman harus mampu meningkatkan kualitas dari satu produksi ke produksi lainnya karena kebanyakan masih menyisakan semangat yang luarbiasa besar, tapi belum kualitas hasil yang layak terutama film-film indie.   

Bagi kolektor film ini, perkembangan film-film dokumenter lebig bagus ketimbang fiksi karena masih stuck di satu genre tanpa mau mencoba berkembang ke genre lain. "Kalaupun ada hanya satu-dua. Selebihnya melulu hanya drama," terangnya.

Menurut Daniel, agar usaha industri perfilman di Medan bisa menjanjikan, perlu lebih banyak diadakan workshop-workshop penguasaan teknis karena film adalah sebuah karya visual yang padu, bukan hanya sekedar rekaman gambar tanpa arah. 

"Itu yang masih sering terjadi di film-film indie kita. Bahkan, film daerah juga masih sering berhadapan dengan masalah yang sama. Kualitasnya tak meningkat dan pembuatnya terlena dengan hasil penjualan yang kenyataannya cukup tinggi," paparnya.

Daniel Irawan dikenal kalangan perfilman di Medan sejak menjadi penulis review film di sebuah harian di Medan sejak tahun 1997. Lama kelamaan, hobinya ini berkembang ke aktifitas blogging. Ia banyak menulis tentang film di blognya (danieldokter.wordpress.com) dan akun twitter @danieldokter. 

Tujuannya, agar lebih menjangkau pembaca dan networking yang lebih luas ke orang-orang dalam industri perfilman, tentunya memiliki pandangan yang sama.

Aktif menulis tentang film di blognya, dilirik beberapa media nasional menjadi penulis. Pengetahuannya yang banyak tentang perfilman memberi peluang menjadi juri di beberapa festival film. Bahkan, di industri film nasional, ia dipakai sebagai konsultan skrip atau produksi, salah satunya film ‘Finding Srimulat’. 

Tak hanya sebagai pengamat dan penulis, pada tahun 2002 ia bersama rekan-rekan yang juga punya passion yang sama membuat film indie berjudul ‘Hacker’ untuk sebuah festival film indie di TV swasta. Lantas di tahun 2005 membuat film ‘Lifeline’ dan sebuah short parody yang akhirnya memenangkan kompetisi ‘Shoot It and Spoof It’ di MTV Movie Awards, LA. 

"Baru-baru ini saya juga membuat film indie ‘Untuk Ibu’ buat sebuah festival film indie selain terlibat di beberapa film indie yang dibuat oleh komunitas film indie di Medan  dan Oktober nanti diundang sebagai film journalist dalam event Tokyo International Film Festival di Jepang," paparnya.








Post a Comment