Wednesday, 8 February 2012

Dokter Spesialis Film

Daniel Irawan mulai mengkoleksi film sejak kecil


Dunia perfilman sangat sulit  terlepas dari kehidupan ayah satu putri ini. Film  sudah menjadi bagian hidupnya  sejak berusia 2,5 tahun. Dari hobi nonton film itu lah, ia mengkoleksi puluhan ribuan judul film beserta pernak-peniknya. Ia memilki rencana akan mendirikan sebuah museum film. Menabjubkan !
 Museum pribdainya Jalan Gatot Subroto Gang  Johar 5A/7, Medan

Sosok pria satu ini tak hanya dikenal sebagai seorang dokter spesialis kulit dan kelamin. Sisi lain, ia dikenal sebagai  seorang kolektor film di Medan.  Betapa tidak, ia mengkoleksi sekitar 35 ribu judul film dalam format DVD,  5000 an dalam bentuk VHS,  500-an Laser Disc  dan 5000-an Video CD.

Sejumlah film-film  produksi di tahun 1916  dan film-film Indonesia era tahun 60an seperti Malingkundang yang dibintangi Rano Karno atau Film Butet yang kini cukup langka ditemui, masih ada ditangannya. ”Sekarang saya mengkoleksi semua jenis film dari semua genre (aliran) dan negara, dari era film hitam putih, film-film bisu termasuk film-film Charlie Chaplin sampai film-film rilisan terbaru,” kata Daniel Irawan bercerita tentang koleksi filmnya.

Saat Kover mengunjungi  rumahnya sekaligus kliniknya di Jalan Gatot Subroto Gang  Johar 5A/7, Medan, suatu malam November lalu, ribuan keping film beserta  pernak peniknya  dari foster, ukuran teatrikal, leaflet,  buku-buku pembuatan mug, t-shirt, goodie bag , standee berukuran gede yang biasanya dipajang di bioskop  dan sebagainya   memenuhi tiga kamar yang kini dijadikan sebagai museum pribadinya. Salah satu diantara kamar disulap  home theatre.

Tak sedikit koleksi film-filmnya terpaksa harus menumpuk dilantai kamar karena rak tersedia sudah padat terisi. ”Sebagian sudah saya pindahkan ke rumah saya satu lagi di Imam Bonjol, karena sudah tidak ada lagi tempat’ tutur penggemar film Genre fiksi ilmiah dan komedi romantis ini. 

Agar gampang menemukan film yang diinginkannya, pria berusia 36 tahun ini, membuat katalog yang dibagi berdasarkan genre dengan nama masing-masing tertera di rak-nya. “Saya sengaja memilih nama-nama unik untuk membagi genrenya misalnya Adrenalination’ untuk genre action, ‘Romancing The Movies’ untuk film-film lovestory baik komedi maupun drama, ‘Screamers’ untuk horror dan lain-lain,” sebutnya .

Koleksi Sejak Kecil

Mengolkesi film ternyata sudah mulai dilakukannya sejak kecil. Saat itu suami Lanny Novianda Irawan ini sudah mengkoleksi sejumlah film dalam bentuk video kaset (VHS),  misalnya Star Wars dan film-film yang benar-benar disukainya. Namun,  keseriusannya mengkoleksi film mulai dijalaninya sejak SMU. “Waktu itu masih dalam bentuk video kaset VHS NTSC dan Laser Disc,” ujarnya.

Hingga saat ini, ia  rutin menonton film-film  yang diputar di bioskop, sedikitnya empat  kali dalam seminggu. Selebihnya menonton  di rumahnya. Tidak itu saja, di malam hari ia juga rajin memutar film-film lama untuk ditonton komunitas film Medan dan masyarakat lainnya  di warkop bola layar tancap yang didirikannya di halaman rumahnya Jalan Imam Bonjol.  

Baginya ada banyak ilmu yang bisa didapat lewat film,  mulai dari budaya, bahasa, politik, geografis, dan science. “Hobi yang jadi bahan pembelajaran dan benar-benar dicoba buat didalami,” jawabnya ketika disinggung artis ebuah  film dalam kehidupannya.

Berburu Film

Sejak duduk di bangku SMU ia mulai serius melakukan perburuan film dari semua tempat yang ada. Setiap jalan-jalan ke luar kota atau keluar negeri,  film menjadi salah satu daftar belanja wajib. Untuk film yang susah didapatkan di toko-toko biasa, Daniel mengorder dari situs-situs di Internet seperti Amazon dan lain-lain. Selian itu, Daniel melakukan barter film yang dimiliknya, dengan sesama kolektor film.

Salah satu yang diburunya adalah  film-film dalam kemasan boxset yang unik dan berbonus merchandise film, seperti limited edition yang berkemasan kayu ukiran, bentuk tematis filmnya seperti Band Of Brothers berbentuk tas militer dengan peta dan kompas, dan ”Sekarang saya sedang mengumpulkan film-film Indonesia zaman dulu yang sebagian banyak didapat di luar seperti Malaysia. Ini harta karun yang berharga sekali, tapi sayangnya pemerintah kita kurang serius mengurus databasenya,” paparnya.

Tidak itu saja, dalam waktu dekat ia berencana membuat museum film di kota Medan yang tak terbatas hanya pada film dalam bentuk fisik. Namun juga pernak-pernik film, agar orang lain juga bisa menikmati tampilan poster-poster dan merchandise film zaman dulu. “Selain itu, mungkin dalam waktu dekat saya akan membantu seorang teman mempromosikan film bioskopnya untuk roadshow di Medan,” tambahnya.

Pekerjaan dan Kegiatan  Sampingan

Hobinya  terhadap perfilman, dijadikannya sebagai pekerjaan sampingan. Ia pun menjadi penulis review film di sebuah koran lokal sejak masih kuliah, pada  tahun 1997 dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan film. Pria ramah dan gampang senyum ini juga aktif di beberapa komunitas film lokal, movieblogger nasional yang baru berdiri tahun lalu.

Terkadang diminta menjadi juri buat festival lokal seperti FFA (Festival Film Anak). “Kalau itu nggak. Saya menulis resensi cuma untuk koran, blog saya sendiri dan social networking di beberapa forum internet,” katanya. Kalau lagi waktu bebas, ia bersama dua orang teman yang lain memproduksi film indie dengan namanya Cinema étranger. (Bahasa Perancis, artinya outsider) melalui rumah produksi kecil-kecilan yang didirikannya. 

Dari beberapa film indie yang dibuat dan pernah diikut sertakan dalam festival-festival nasional. Film indie   yang diproduksi pernah menang di kontes short parody Asia/Australia yang diadakan MTV tahun 2005 (Shoot It and Spoof It MTV Movie Awards 2005). ”Hadiahnya waktu itu handycam dan trip gratis ke Hollywood, Los Angeles,” jelasnya dengan tersenyum.
Post a Comment