Sunday, 2 October 2011

Hentak Tarian Putri Bangsawan Serdang



Terjun langsung menampilkan keindahaan tarian melayu diatas panggung pertunjukan yang disaksikan ratusan hingga ribuan pengunjung, bagi sebahagian kalangan bangsawan mungkin berat untuk melakukannya. Apalagi mengingat seorang bangsawan yang status berpengaruh terhadap citra pemimpin kaum etnis tertentu, yang begitu dihormati.
Namun hal itu dilakukan Tengku Mira Sinar. Dalam setiap kesempatan di event –event yang berkaitan dengan pertujukan seni dan budaya. Putri bangsawan keturunan Kesultanan Serdang ini, sebaliknya tidak merasa gengsi meski status bangsawan yang melekat di dirinya begitu cukup di hormati masyarakat etnis Melayu karena kedudukannya juga sebagai Ketua Yayasan Kesultanan Serdang.

Malah, Tengku Mira Sinar ikut terlibat dalam pembuatan tari, pemilihan musik tari, menentukan penari dan pemusik, mengajar tari, merias penari, mendesign baju tari, menentukan properti tari, menyusun program kegiatan, dan turut serta menari dalam event tertentu, melalui sanggar Sinar Budaya Group (SBG) yang didirkan ayahnya Almarhum Tengku Luckman Sinar, SH pada tahun 1992 lalu.
Keaktifannya dan perhatiannya itu terkadang kerap menjadi cerita miring, karena dianggap dari sisi management perusahaan, sebagai Direktur di SBG semestinya hal itu tidak dilakukannya, karena bisa dinilai tidak profesional dan diibarat kata kiasan One Man Show. “Bagi saya, penjelasan arti profesional adalah menguasai suatu pekerjaan dan sungguh – sungguh mengerjakannya. Oleh sebab itu, untuk menghindari ketidakpuasan konsumen, saya wajib terlibat dalam pekerjaan yang saya kuasai,”sebutnya awal Agustus lalu.
Namun, cerita miring itu terputus karena setiap event yang diikutinya, mendapatkan apresiasi dan antusiasme penonton di setiap pertunjukan tari SBG di luar negeri, Bahkan pernah ketika pentas Makyong di Bukittinggi dihadiri 5000 penonton. Sejak kepemimpinan SBG berada ditangannya dari tahun 2003 lalu, seni tari budaya Melayu dipertunjukannya ke berbagai even baik di dalam dan luar negeri. Diantaranya negara ASEAN, Asia, UEA, Qatar, Eropa, Amerika Latin dan lain – lain.
Bahkan, pada tahun 2006, Ia mulai memperluas kegiatannya sebagai penyelenggara kegiatan (EO) untuk event – event adat dan seni budaya Melayu ke daerah – daerah dan menerbitkan buku – buku seni budaya Melayu.

Wajib Sejak di bangku SD
Perjalanan Mira Sinar menuju panggung pementasan, menyimpan cerita. Meski sejak di bangku SD, sebagai putri bangsawan Serdang sudah diwajibkan menari tari tradisi. Ibu tiga putera ini, sempat meninggalkan kegiatan menari cukup lama ketika beberapa kurun waktu pindah ke Jakarta.
Untung, begitu kembali ke Medan, hasratnya kembali bergelora begitu mendengar alunan musik Melayu. Dorongan pun semakin kuat, ketika sering melihat kebolehan ayahnya almarhum Tengku Lukman Sinar turut berlatih di SBG, menunjukan tarian gerakan lompat kijang Serampang XII yang hingga saat ini tak satupun penari SBG dapat meniru gerak tersebut.
Melihat itu, tanpa sepengetahuan ayahnya, diam-diam Mira Sinar mulai berlatih kembali. Dan pada suatu ketika dalam sebuah pertunjukan, Ia pun turut menari bersama penari SBG lainnya, hingga membuat ayahnya terkejut.
Sejak itu tekadnya mendalami seni tari melayu Serdang semakin bulat. Dia mulai menyadari, menyandang nama besar ayahnya Tengku Lukman Sinar tidaklah mudah. Di seni tari, ayahnya pernah sebagai pelakon utama Teater Bangsawan Serdang dan penari Melayu yang pertama kali mempertunjukkan tarian Serampang XII di pentas Internasional di beberapa negara Eropa Timur pada tahun 1955.

“Bagi saya, menyandang nama besar Tengku Luckman Sinar beserta Sinar Budaya Group adalah satu kewajiban yang harus saya jalani sebagai penerus,” ujarnya.


Berkiprah Lewat Sinar Budaya Group
Makanya, dia memilih melanjutkan jejak sang ayah itu, dengan mengembangkan SBG serta mengikuti berbagai perlombaan seni budaya. Salah satu diantaranya mengembangkan seni tarian asal Serdang yakni Serampang XII karya tari Sauti--seorang guru “Sekolah Melayu” di Perbaungan, diciptakan sekaligus dipopulerkan pada tahun 1938, semasa Sultan Serdang V Tuanku Sulaiman Syariful Alamshah bertahta.
Sosok Tengku Luckman Sinar yang dikenalnya, tidak pernah putus asa dan setia untuk terus memperjuangkan budaya Melayu hingga akhir hayat mangkat (meninggal) sebagai Sultan dan Kepala Adat Melayu, ditengah kondisi kritis dalam masyarakat yang saat ini mengalami, membuatnya semakin memberinya motivasi melestarikan budaya melayu yang saat ini berhadapan dengan tren budaya asing.
Sebuah pesan sang ayah yang berbunyi jika ingin menguasai negeri, masyarakat Melayu harus setia kepada jati diri, menanamkan rasa percaya diri, disiplin, berpendidikan tinggi dan bersatu untuk merencanakan program kegiatan yang bermanfaat di dunia. Selalu diingatnya untuk motivasi baginya menghadapi tantangan. ”Ayahnda adalah tauladan bagi saya. Tekad saya ingin terus melestarikan budaya Melayu,” tuturnya..

Hadapi Tatangan Tarian Modern
Sebagai keturunan Kesultanan Serdang yang hidup di era globalisasi budaya saat ini, Ia menyadari betul bukanlah pekerjaan yang muda merangkul kaum muda untuk lebih mencintai seni budaya etnisnya. Diperparah lagi dengan masih kurangnya perhatian pemerintah terhadap program seni tradisional.
Toh, Ia memilih untuk tidak menyerah dengan keadaan. Lewat SBG, Ia terus mengadakan pendekatan kepada generasi muda melalui seminar, pelatihan dan workshop di berbagai tempat. Membuat promosi-promosi agar seni budaya tersebut dapat dikenal oleh masyarakat umum serta mengadakan event-event yang terorganisir yang berfokuskan kepada seni dan budaya, menerbitkan buku “Teknik Pembelajaran Tari Melayu Tradisional” dilengkapi dengan gerakan visual dalam bentuk VCD.
Lewat SBG, Ia memiliki keinginan mengembangkan seni budaya dikalangan generasi muda agar mampu bersaing dengan budaya-budaya lainnya di seluruh nusantara, melestarikan seni budaya peninggalan sejarah agar tetap terpelihara - dan dikenal sebagai bagian daripada kebudayaan nasional dan membina keberadaan seni budaya untuk dapat terus berkembang sebagai pendukung pembangunan Nasional dalam bidang seni budaya.
”Pada tahun 2011 ini, SBG telah mempunyai ruang latihan tari yang cukup luas. Dengan adanya aula ini, jerih payah membesarkan SBG telah saya capai hasilnya terbukti SBG satu – satunya sanggar tradisi di Sumatera Utara yang mempunyai aula milik sendiri. SBG juga membuka cabang di komplex perumahan Srigunting Indah,” paparnya.
Namun Ia menyadari, sebagai seorang manusia, pasti memiliki keterbatasan untuk bisa mewujudkan keinginan itu dengan sempurna, tanpa adanya dukungan yang serius dari pemerintah dalam melestarikan seni dan budaya melayu.
Post a Comment