Wednesday, 24 August 2011

Merekam Medan dari Kepingan Situs Kota Cina



Sinar matahari begitu terasa terik mengiringin perjalanan kami menuju Danau Siombak, Kelurahaan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, petengahan Juni lalu. Setelah sekian lama mengendarai sepeda motor dari kota Medan, dan sempat berputar-putar menelusuri jalanan sempit, rusak di areal pinggiran Danau Siombak. Akhirnya kami berhasil menemukan Museum Situs Kota Cina.

Paya Pasir merupakan satu keluarahan di Kecamatan Medan Marelan. Letaknya berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang di sebelah barat, Medan Labuhan di sebelah timur, Medan Helvetia di sebelah selatan, dan Medan Belawan di sebelah utara.

Selama perjalanan kami melihat keberadaan danau siombak dengan luas areal 40 Hektare, kini telaqh banyak dimanfati sebagai areal tambak ikan, kolam pancing dan lokasi ekowisata.

Setiba disini, tidak ada yang istimewa terlihat dari bagian luar gedung Museum yang didirikan Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Medan (Unimed) dan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) Unimed ini. Yang terlihat hanya bangunan cukup sederhana. Atap jerami, dinding tepas, pagar dan pintu gerbang pun hanya terbuat dari bambu.

Di pingiran museum yang didirikan pada tahun 2010 lalu, terdapat sebuah sungai dan sejumlah perahu. Sungai ini telah lama dimanfaati warga sekitarnya untuk mencari nafkah sebagai nelayanan, dan pencari daun rumbiah untuk membuat atap. Sungai ini disebut sebagai salah satu sarana transportasi air bagi nelayanan menuju Belawan dari Danau Siombak.

Meski bangunannya sangat sederhana, dan jauh dari bangunan sebuah museum yang sesungguhnya. Belakangan ini Museum Situs Cina begitu ramai dikunjungi mahasiswa, pelajar dan arkeolog pasca ditemukan ribuan peninggalan benda-benda Cina kuno.

Dari benda-benda kuno yang ditemukan tersebut, cenderung merujuk pada era kedinastian Sung, Yuan dan Ming di China. Selain itu temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa adanya komunitas pedagang yang berasal dari mancanegara seperti China, Johor, Jawa, Burma, Thailand pernah singgah di Bandar pelabuhan yang terletak di pesisir Timur pantai Sumatra Utara.

Itu terlihat dari ditemukannya koin mata uang China abad ke-6, koin dari Sri Lanka abad ke-12, keramik China abad ke-11, keramik Thailand, dan keramik yang diduga berasal dari Timur Tengah

Selain itu ditemukan juga artefak lainnya seperti manik-manik, kaca, tumpukan batu bata merah yang diduga bekas bangunan candi serta penemuan beberapa arca dan benda-benda lain yang diduga kuat terkait erat dengan prosesi peribadatan. Dengan demikian situs kota China juga menjadi pusat peradaban.

Menurut Dr Ichwan Azhari Ketua Pusis Unimed, di areal danau Siombak inilah, pernah bediri sebuah kota bernama situs kota Cina yang diprediksikan ada sejak abad ke 12-16 M, periode sebelum penguhasa-penguhasa dari Belanda datang ke Labuhan Deli membuka perkebunan tembakau.

Kota Cina diangap merupakan satu-satu situs perkotaan pra kebudayaan Islam yang ditemukan hingga kini di Pulau Sumatra yang secara administratif pemerintahan terletak di kecamatan Medan Marelan, yang menjadi cikal bakal terbentuknya kota Medan.

Petunjuk itu merujuk dari mata uang logam berasal dari dinasti Tang pada abad ke-6, dan mata uang dari dinasti Song abad ke 10-12 M. Kemudian fragmen keramik asing bercorak India dan Cina. Arca Budha Amitaba yang berasal dari abad ke 12-13 M, tiang rumah kuno yang diperkirakan dari abad ke-14 M

Nah, dari temuan itu lah, semakin menunjukan bahwa kawasan situs kota Cina di Medan Marelan, pernah menjadi bagian terpenting dari terbentuknya kota modern di wilayah pantai Timur, Sumatera khususnya di daerah Medan Marelan.

Situ Kota Cina saat itu diprediksikan pernah menjadi bandar perniagaan kuno terpenting di Selat Malaka. Alhasil, lamban laun seiring dengan semakin banyaknya pedagang yang singgah di Medan Marelan, akhirnya terbentuklhan suatu perkotaan dagang.

Menurut Ichwan Azhari, dengan ditemukannya pecahan-pecahan keramik dan artefak lainnya telah memenuhis syarat adanya aktivitas dan sebuah kota di Medan Marelan. “ Memang di kawasan Asia Tenggara, kota itu berada di kawasan pantai, karena berkaitan dengan perdagangan,” kata Ichwan Azhari kepada Kover Magazine.

Jalur Perdangan Penting

Terbentuknya, situs kota Cina bias jadi karena geografis Medan Marelan yang merupakan tepian pantai menghadap ke Selat Malaka. Seperti diketahui, Selat Malaka cukup terkenal sebagai jalur lalu lintas perdagangan yang ramai dilalui pedagang di Asia Tenggara.

Hingga saat ini jalur Malaka, tetap menjadi denyut roda perekonomian perdangan di kawasan Asia. Bila dilihat dari letak geografisnya, posisisnya yang berhadapan langsung dengan selat Malaka yang memegang peranan penting sebagai ”jalur maritim sutra”. Selat Malaka menghubungkan Guang Chou (Asia), Arab (Timur Tengah) dan Mesir (Afrika).

Bahkan, Stanov Purnawibowo dari Balai Arkeologi Medan dalam situsnya menyebutkan Selat Malaka, sebagai Jalur Sutera Laut atau Jalur Sutera Kedua untuk memperdagangkan komoditas berasal dari berbagai wilayah di Nusantara, Cina, Eropa, India dan Timur Tengah.

Penemuan benda-benda kuno dari Cina ini, semakin menunjukan bahwa penguasa dan penduduk lokal di kawasan itu, telah melakukan kontak dagang dengan para pedagang dari negeri tirai bambu itu. Apalagi, melihat posisi Kota Cina yang berdampingan langsung dengan Selat Malaka sehingga memberikan efek, terhadap perkembangan kawasan di Medan Marelan.

Bahkan, arkeolog dari Perancis Daniel Perret yang saat ini terus melakukan penelitian keberadaa situs Cina menilai Situs Kota Cina sangat penting sebagai salah satu bandar perniagaan utama di Sumatera Timur selain Kota Rentang, Pulau Kampai, Tamiang, Samudra Pase, Jambi, Batu Sangkar dan lain-lain.

Dari penelitian telah mempertegas kembali peranan Situs Kota Cina dalam segitiga arkeologi di Sumatera Utara yang menghubungkan Barus, Portibi dan Kota Cina.

Berawal Temuan Orang Inggris

Situs Kota Cina di Kecamatan Medan Marelan, sejatinya ditemukan pertama kali oleh warga negara Inggris setelah abad ke-16 M, ketika hendak membuka perkebunan tembakau di Martabung. Sayangnya, ketika mereka mendatangi daerah ini, tidak satu pun manusia ditemukan lagi disana.

Yang ditemukan hanya pecahan benda-benda kuno dari Cina seperti tembikar, keramik, coin atau mata uang, gelas, brickstone Batubata berfragmen candi, archa, tulang belulang, atau bahkan sisa-sisa perahu tua. Sehingga, akhirnya warga Inggris tersebut menamakannya sebagai kota Cina.

Pada saat itu terdapat puluhan rumah tangga yang dikontrol oleh Sultan Deli di Labuhan. Kampung Terjun dan Hamparan Perak terletak hanya beberapa kilometer disebelah Barat dan disebelahnya terdapat Suku Duabelas Kota yang dikontrol oleh Kejuruan Hamparan Perak yakni seorang Melayu Karo

Namun, faktor yang menyebabkan tenggelamnya kota Cina, hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Menurut Ichwan Azhari, banyak analisa mengenai penyebab tenggelamnya kota Cina. Salah satu penyebabnya, kemungkinan adanya penyerangan terhadap kampong Cina. Kemungkinan itu bisa terjadi, dengan melihat adanya patung yang patah saat ditemukan.

Penelitian keberadaan situs kota Cina di Marelan, dimulai pada 1972 yang dilakukan arkeolog berkebangsaan Inggris, yakni Edwards McKinnon dan telah menghasilkan sebuah tulisan dalam bentuk disertasi yang menggambarkan artifak peninggalan Kota China berupa keramik, tembikar, dan lain-lain. Selanjutnya, pada awal 1980-an, penelitian dilakukan arkeolog berkebangsaan Australia, Prancis, dan lain-lain

Rahasia keberadaan situs kota Cina, ini pun kini coba diungkap kembali melalui penelitian Arkeolog dari Perancis Daniel Perret dan para arkeolog dari Balai Arkeologi Medan, setelah menemukan ribuan pecahan benda-kuno di situs Kota Cina Medan Marelan setelah ekskavasi di situs itu sejak 28 April 2011.


Penelitian dan ekskavasi yang didanai oleh pemerintah Perancis melalui Lembaga Kajian Prancis untuk Asia (EFEO) sejak 28 April 2011 ini dilakukan untuk kembali menegaskan arti pentingnya Situs Kota Cina sebagai salah satu bandar perniagaan utama di Sumatera Timur pada abad 11.

Bila negeri lain saja peduli dengan keberadaan Situs Cina. Pemerintah memang sudah layak melestarikan Situs Kota Cina, karena sejarahnya sangat penting yang berkaitan dengan perkembangan Kota Medan.
Post a Comment