Tuesday, 2 August 2011

Bertemu di Dunia Maya, Berkumpul di Kereta Api


Stasiun Kereta Api Besar Medan tak asing lagi bagi warga Medan. Namun belum tentu semua ngeh jika disebut Dipo Lokomotif Medan. Terletak di utara Stasiun Besar, di tempat inilah lokomotif milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divisi Regional (Divre) 1 Sumut diperbaiki dan dipersiapkan sebelum beroperasi.

Awal Juni lalu saya berkunjung ke sana untuk pertama kali. Saya datang bukan untuk melihat proses perbaikan dan persiapan lokomotif. Akan tetapi, untuk menemui sekumpulan anak-anak muda Medan pencinta kereta api yang tergabung dalam Divre 1 RailFans.

“Hobi ini hobi aneh. Kegemaran kok sama kereta api?,” ucap Gregory Widya tertawa saat menyambut kedatangan saya. Ia lantas mengajak saya berbincang di atas bekas tangki air yang setengah badannya tertanam di tanah. Kami duduk selonjoran tanpa alas. Sesekali klakson kereta api menyusup di antara perbincangan.

Di depan kami bangunan loos besar terbuka. Beberapa lokomotif parkir di sana. Sebagian tengah dalam tahap perbaikan ringan. Menurut Gregory, Dipo Lokomotif Medan menangani perbaikan ringan. Sedangkan untuk perbaikan berat dilakukan di Balai Yasa, Pulo Brayan.“Lokomotif seri BB seperti BB 302 dan 303 di Indonesia hanya ada di Sumut,” sebut Gregory bangga.

BB menandakan jumlah roda lokomotif. Selain BB, ada AA dan CC. Jumlah roda menjadi ukuran kekuatan lokomotif menarik beban gerbong dan penumpang. Sumut belum bisa mengoperasikan jenis CC karena jalur rel di Sumut belum memenuhi standar bagi lokomotif CC. Tak seperti seri BB yang menggunakan diesel hidrolik, seri CC menggunakan diesel elektrik.

“Jenis lokomotif disesuaikan dengan kekuatan rel,” jelas pegawai PT PLN Sumut ini. Seakan mengerti keingintahuan saya, ia menambahkan bahwa Lokomotif BB yang beroperasi di Sumut diproduksi oleh pabrikan Henschel dan Krupp asal Jerman. Henschel memproduksi BB 302, 303, dan 306. Sedangkan BB 301 diproduksi Krupp.

Sekira 30 menit berbincang, teman-teman Gregory di Divre 1 RailFans datang bergabung bersama kami. Mereka dari Pulo Brayan melihat kereta api Sri Lelawangsa yang anjlok sebelum mencapai stasiun. Satu di antara anggota Divre 1 RailFans yang dikenalkan Gregory adalah Riky Soeripno.

Gregory dan Riky Soeripno bergantian bercerita bagaimana komunitas mereka dibentuk. Mereka bertemu di satu halaman situs para pencinta kereta api, semboyan35. Dari perbincangan di dunia maya selama 6 bulan, mereka plus Rio Andika menggelar kopi darat pada Agustus 2009.

“Kami sama-sama tidak tahu dimana ada komunitas pencinta kereta api di Medan. Sampai akhirnya bertemu di semboyan35,” cerita Riky. Dari pertemuan tersebut mereka mencetuskan nama Divre 1 RailFans.

Keberadaan komunitas mereka kabarkan kepada teman masing-masing. Jejaring sosial facebook pun dimanfaatkan. Beberapa anggota mengetahui keberadaan Divre 1 RailFans melalui facebook. Mungkin karena kegiatan ini tergolong aneh seperti ucap Gregory di awal, belum banyak yang बेर्गाबुंग। “Sampai saat ini kami baru memiliki anggota sekitar 15 orang,” sebut Riky. Stasiun Besar, Dipo Lokomotif, dan Stasiun Pulo Brayan menjadi tempat mereka berkumpul.

Tak jarang naik kereta api sekadar jalan-jalan. Sampai di stasiun tujuan, berkeliling di sekitarannya, lalu kembali ke Medan. Beberapa kali pula mereka menelusuri jalur maupun stasiun kereta api yang telah ditutup dan mendokumentasikannya. Tahun depan mereka berencana mengeluarkan buku tentang sejarah kereta api di Sumut.

Di samping itu, Divre 1 RailFans tengah mengupayakan berafiliasi ke Indonesian Railway Preservation Society (IRPS). IRPS di banyak kota di Indonesia sejauh ini, jelas Gregory, sering dilibatkan dalam pengambilan kebijakan PT KAI. Aspirasi mereka didengar dan tak jarang suara mereka mengubah rencana PT KAI.

“Kereta api selain sebagai sarana transportasi juga sarana mendidik anak-anak,” ujar Gregory. Pegawai PT KAI Sumut, cerita Gregory, pernah menggelar acara naik kereta api bagi anak-anak SD. Mereka dibawa menuju Binjai. Di Binjai anak-anak tersebut mengikuti lomba menggambar dan mewarnai. Lalu kembali lagi ke Medan setelah kegiatan selesai. “Agar anak-anak tak melulu ke mall dan menjadi konsumtif.”

Saya mengiyakan ucapan Gregory dan ingin berbincang lebih lama bersama Divre 1 RailFans। Sayang, sore menjelang. Saya pamit meninggalkan Dipo Lokomotif dengan tanda tanya. Akankah jalur kereta api seperti Medan-Delitua dan Medan-Pancurbatu kembali dibuka sebagai satu solusi mengatasi kemacetan Medan yang kian parah. (Bono Emiry)
Post a Comment